foto bipaAfiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jawa Tengah bekerja sama dengan UPT Pengembangan Bahasa Internasional Unissula Semarang menyelenggarakan Pelatihan Pengajaran BIPA Tingkat Pemula di Hotel Semesta, Semarang pada Selasa sampai dengan Kamis (6 – 8/12). “Acara ini berpusat pada metode pengajaran BIPA, pengembangan bahan ajar, evaluasi pembelajaran BIPA, dan pengajaran BIPA berbasis budaya,” tutur Mohammad Noor Zuhri, S.Pd., M.Pd., Ketua Panitia.

Acara ini dihadiri oleh 34 calon pengajar BIPA yang terdiri atas dosen, mahasiswa S2, dan pegiat BIPA. Dr. Farikah, M.Pd., Ketua UPT Bahasa Untidar dan Asri Wijayanti, M.A., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar menjadi peserta dalam acara tersebut. “Untidar sedang dalam proses perintisan Unit BIPA. Oleh karena itu, kami mengikuti kegiatan ini untuk mendapatkan pengalaman seputar BIPA secara lebih intensif,” Kata Dr. Farikah, M.Pd.

Selain dari Untidar, peserta berasal dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Alumni S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas PGRI Semarang, Universitas Muhammadiyah Semarang, STKIP (Sekolah Tinggi dan Ilmu Pendidikan) Nurul Huda Sukaraja, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Universitas Muria Kudus, Universitas Ahmad Dahlan, dan Balai Bahasa Menado.

Diskusi dan Praktik

Kegiatan ini digelar selama tiga hari, pada hari pertama peserta berdiskusi tentang materi kemahiran membaca, menulis, model rencana program pengajaran, dan evalusi dalam pembelajaran BIPA. Erni C. Westi, M.Hum., Pegiat BIPA dan Dosen di Universitas Indonesia , bertindak sebagai narasumber pada hari pertama (6/12). “Pengajaran BIPA sebaiknya dilakukan dengan pendekatan komunikatif karena tujuannya adalah mengembangkan kelancaran berbahasa. Dalam hal ini kelancaran yang dimaksud adalah mencerminkan kemampuan berbahasa secara natural,” ujar Erni C. Westi, M.Hum. saat memberikan materi kemahiran membaca dalam Pembelajaran BIPA.

Lebih lanjut, para pengajar BIPA diharapkan menghadirkan materi autentik di dalam kelas sehingga evaluasinya juga evaluasi autentik. “Pengajar dapat menilai tugas-tugas siswa dengan membuat instrumen penilaian yang rinci,” tambah Erni C. Westi, M.Hum. Pada kesempatan tersebut, para peserta diminta untuk berdiskusi cara mengajarkan membaca dan menulis dengan tema tertentu, lalu mencoba untuk memberikan penilain autentik terhadap tugas mahasiswa asing yang dibawa oleh narasumber.

Pada hari kedua, peserta diberi materi kemahiran menyimak, berbicara, dan model pembelajaran BIPA berbasis budaya. “Pengajar sebaiknya memilih terlebih dahulu jenis aktivitas yang melibatkan menyimak dan berbicara agar peserta didik mengerti situasi yang akan dibahas. Selain itu, setiap materi harus memasukkan unsur budaya Indonesia,” tutur Dr. Arif Budi Wurianto, Ketua APPBIPA Jawa Timur, pemateri hari kedua.

Para peserta juga diberi pengalaman praktik mengajar BIPA secara langsung. Sebanyak 21 mahasiswa asing dari Thailand, Sierra Leone, Madagaskar, Rwanda, Palestine, Slovakian, India, Rahana, dan Vietnam dihadirkan sebagai siswa pada kegiatan praktik tersebut. “Kegiatan praktik ini bertujuan peserta memiliki pengalaman mengajar mahasiswa asing sebagai syarat untuk mengajar BIPA,” tutur Yusro Edy Nugroho, M.Hum., ketua APPBIPA Jawa Tengah.

“Bagi orang yang baru pertama kali mengajar BIPA, praktik mengajar tersebut memberikan pengalaman yang baru. Praktik mengajar bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing harus didukung dengan metode dan teknik yang paling tepat berdasarkan pengetahuan awal mereka terhadap bahasa Indonesia. Di kelas saya, ada mahasiswa asal Afrika yang penguasaan kosakata bahasa Indonesianya masih sangat rendah sehingga saya harus berbicara dengan pelan agar dia mengerti,” kata Asri Wijayanti, M.A.

Sebelum kegiatan ini, Pusat Bahasa Untidar telah mengadakan Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) Rintisan Penyelenggaraan BIPA di Untidar pada 18 – 19 November 2016. “Untidar melalui Pusat Bahasa akan menangani BIPA ini dengan sungguh-sungguh. Setelah ini, kami akan mencoba merumuskan materi pembelajaran BIPA. Harapan kami, Untidar benar-benar memiliki mahasiswa asing sehingga Pembelajaran BIPA di Untidar bisa benar-benar terwujud,” tambah Dr. Farikah, M.Pd.

WJBIPA

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY